Cara Terbaik Memahami Anak


Cara Terbaik Memahami Anak

Banyak orangtua dan guru yang mengikuti seminar saya berkomentar “Oke, teknik yang Anda berikan untuk mengatasi problematika anak sangat bagus. Tapi, saya tidak yakin bisa menerapkan apa yang telah Anda ajarkan” lalu tanya saya “Apa sebabnya?”, “Pertama saya tidak disukai anak, berikutnya bagaimana mengkomunikasikan pada mereka ?”. Jelas ini adalah masalah, tapi tenang ada cara bagaimana memahami perilaku anak. Tapi sabar dahulu sebab ada bagian yang harus Anda pahami dahulu.

Banyak dari orangtua dan guru bertanya dalam pikiran mereka sendiri :

  • Mengapa anak saya tidak peduli dengan masa depannya?
  • Mengapa mereka melakukan hal-hal yang tidak masuk akal (guru dan orangtua)
  • Mengapa mereka tidak mau mendengarkan walupun sudah diingatkan berkali-kali?
  • Mengapa anak saya membiarkan dirinya dipengaruhi oleh hal-hal negatif dari teman-temannya yang tidak berguna?

Nah, pertanyaan utama : bagaimana memahami perilaku dan pemikiran mereka?

Jawabanya adalah EMOSI mereka. Emosi sangat menguasai logika berpikir mereka anak-anak dan remaja. Remaja dan anak-anak jauh lebih banyak didorong oleh perasaan mereka daripada pemikiran yang baik untuk mereka. Dengan mengetahui hal ini, maka sia-sia upaya kita mengkuliahi mereka seharian. Membombardir pikiran mereka dengan nasehat positif, menjadikan diri kita motivator dadakan didepan mereka tidak akan mempan. Justru membuat anak bertambah “sebal” dengan kelakuan kita. komentar atau nasihat seperti : “kamu harus giat belajar”, “jangan buang waktumu dengan bermain terus”, “jaga kebersihan dikamarmu”, kecuali bila kita sudah terlebih dahulu mengenali perasaan mereka.

Dalam kondisi emosi yang negatif seorang anak tidak dapat menerima input dan nasehat bahkan titah sekalipun yang dapat mengubah perilaku mereka. Berbeda hasilnya jika kita mampu mengerti dan mengenali perasaan emosi mereka terlebih dahulu maka mereka akan terbuka dan mendengarkan saran logis dari kita. Anak–anak dan remaja akan melakukan sesuatu jika membuat mereka merasa nyaman atau enak di rasanya atau hatinya.

Sebelum melangkah lebih jauh, kita akan belajar bersama, bagaimana reaksi kita dalam menghadapi masalah anak. Seringkali jika ada masalah maka yang ada dibenak kepala kita umumnya ada 3 hal, yaitu :

1. Memberi Nasihat, misal: “saya tadi berkelahi dengan Agus, disekolah”, respon kita pada umumnya “apa-apaan kamu ini sekolah bukan tempat belajar jadi tukang berantem, hanya penjahat yang menyelesaikan masalah dengan berantem”

2. Menginterogasi, misal: “Hp saya hilang di sekolah” respon kita pada umumnya “kamu yakin bukan kamu sendiri yang menghilangkan? Yakin kamu tidak lupa, coba diingat kembali”

3. Menyalahkan dan menuduh, misal: “tadi Edo dihukum karena tidak mengerjakan PR” respon kita pada umumnya “dasar anak malas, mulai hari ini kamu harus lebih disiplin dan perhatikan tugas disekolah”.

Setelah melihat ketiga contoh diatas, tidak ada satu ruang pun untuk mengakui perasaan atau emosi anak, betul? Seringkali kita ini hanya memberikan masukan tanpa mau mendengar apa yang sebenarnya terjadi (lebih tepatnya perasaan apa yang terjadi pada diri anak kita). Ketika emosi seorang anak diabaikan mereka akan lebih marah dan benci. Selama ini mereka berada dalam keadaan emosi negatif, semua nasihat-nasihat maksud baik kita tidak akan digubris, malah akan di “gubrak”.

Cara terbaik untuk memahami anak kita adalah, mengakui emosinya (kenali emosinya) dan beri mereka kekuatan untuk menemukan solusi atas masalah mereka sendiri. Caranya adalah:

1. Dengarkan mereka 100%, tatap matanya dengan tatapan datar atau sayang. (Berikan perhatian dan pengakuan)
Terkadang yang dibutuhkan anak hanya didengar saja, bukan solusinya. Hanya memberikan perhatian 100% kita bisa terkejut, ternyata anak mau terbuka dan mau berbagi pikiran dan perasaan. Hanya dengan berkata “hmm.. okay, begitu ya.. lalu..” Walau nampaknya sederhana, jujur ini sulit bagi kita orangtua yang terbiasa mau ambil jalur cepat alias memberikan solusi dan menyelesaikan masalah. Ketika hal itu kita lakukan, anak akan menutup diri dan menghindar bicara kepada kita. Anak hanya akan meyatakan pikiran dan perasaan yang sejujurnya tanpa takut dihakimi.

Ketika kita biarkan anak mengungkap emosi dan pikirannya dengan bebas (saat kita ada untuk memberi dukungan emosional), kita akan melihat mereka dapat menemukan solusi sendiri untuk permasalahan mereka. Kelebihan lainnya dari pendekatan ini adalah anak akan mengembangkan rasa percaya diri untuk berpikir bagi dirinya sendiri dan menghadapi tantangan – tantangan hidup.

Misal : “saya tadi berkelahi dengan Agus, disekolah”, respon kita “apa yang terjadi? Lukamu pasti sakit sekali yah.. oh, okay”

2. Mengenali dan mengambarkan emosi.
Perlu bagi kita sesaat untuk mempelajari makna dari emosi, karena ini penting bagi kita untuk bisa mencerminkan emosi anak dan mengerti dengan pasti apa yang mereka rasakan. Dengan dimengertinya perasaan mereka, maka mudah bagi mereka untuk terbuka dan bicara tentang masalah mereka. Berikut adalah emosi yang umumnya dialami oleh manusia.

Nama Emosi dan Makna-nya :

  1. Marah – Merasakan adanya ketidakadilan
  2. Rasa bersalah – Kita merasa tidak adil terhadap orang lain
  3. Takut – Kita diharapkan antisipasi karena sesuatum yang tak diinginkan bisa saja terjadi
  4. Frustrasi – Melakukan sesuatu berulangkali dan hasilnya tak sesuai harapan artinya kita harus cari cara lain
  5. Kecewa – Apa yang diinginkan tidak bisa terwujud
  6. Sedih – Kehilangan sesuatu yang dirasa berharga
  7. Kesepian – Kebutuhan akan relasi yang bermakna bukan hanya sekedar berteman
  8. Rasa tidak mampu – Kebutuhan untuk belajar sesuatu karena ada sesuatu yang tak bisa dilakukan dengan baik
  9. Rasa bosan – Kebutuhan untuk bertumbuh dan mendapatkan tantangan baru
  10. Stress – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan
  11. Depresi – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan

Baiklah kita mulai dengan satu kasus, jika anak Anda datang kepada Anda dan berkata “Joni tidak mau bermain bola dengan ku” apa jawab Anda? “Sini main sama papa/mama, maen sama yang lain saja ya atau ya sudah.. maen sendiri saja”. Ketiga jawaban ini sekilas adalah jawaban klasik, dan memang dibenarkan karena sering dipakai. Pertanyaan saya ada Emosi apa dibalik kata-kata anak tersebut? Betul!! KECEWA, KESEPIAN, nah kalau begitu responnya bagaimana? “Hmm.. nak kamu pengen banget ya maen sama Joni?” atau “Hmm.. kamu kesepian yah, pengen main ya?” lalu tunggu responnya, biasanya anak akan bercerita panjang lebar, kemudian solusi sebaiknya diserahkan kepada anak, caranya “lalu apa yang bisa Papa/Mama bantu buat kamu? Mau maen sama Papa/Mama? Atau ada ide lain?” Biarkan anak memilih solusi terbaik bagi dirinya. Hafalkan tabel diatas dan gunakan untuk berkomunikasi dengan anak, pahami seiap kasus yang dialami anak.

Dengan turut mengerti perasaan emosi anak dan membiarkan menemukan solusi masalahnya sendiri maka anak akan merasa dipahami dan nyaman. Serta akan tumbuh rasa percaya diri dilingkungan yang menghargai dia. Dan berikutnya akan mudah bagi anak untuk terbuka terhadap orangtuanya, dan sikap saling percaya antara orangtua dan anak akan terbentuk dengan baik.

Sampai kini, kita telah belajar bagaimana caranya agar anak terbuka dan percaya pada kita, betul? Berikutnya bagaimana caranya mengarahkan? Caranya setelah kita mendengar dan mengerti perasaan dan emosi anak, serta menanyakan solusi terbaik menurut anak (jika anak sudah mampu berpikir untuk solusi) tanyakan “bolehkah Papa/Mama usul?” setelah ada ijin dari anak maka berikan masukan yang Anda rasa paling mujarab. Terkadang cara pandang anak tidak sama dengan orangtua, kita tahu jika anak memilih solusi yang kurang tepat (menurut orangtua) dengan nilai, norma yang berlaku di lingkungan sosial maka kita bisa “menggiringnya” dengan mudah karena langkah 1 dan 2 sudah dilakukan. Tentunya dengan model komunikasi yang sopan dan tetap menghargai anak.

Pintu gerbang kekerasan hati anak akan terbuka lebar saat kita mau menerima dan mengerti anak kita, dan anak akan mempersilahkan kita masuk dan bertamu didalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ditempat itulah kita dapat meletakan pesan, arahan dan masukan positif bagi kebaikan masa depan anak.

Saya paham cara ini butuh waktu, semua solusi cerdas untuk meningkatkan kualitas keluarga butuh waktu. Ada namanya “waktu tunggu” untuk suatu hasil yang istimewa. Masakan yang enak dan sehat butuh waktu dan proses didapur, tidak sekian detik jadi. Nah kualitas apa yang kita mau untuk keluarga kita?

Salam

Timothy Wibowo

Miliki Cara Jitu Dalam Membentuk Karakter Anak

Klik Disini !!

39 Comments

  1. Cara terbaik memamhami anak adalah mendengarkan dan memahami emosi anak.
    Pertanyaan saya bagaimana cara memahami emosi atau mengenal emosi anak?

    Post a Reply
    • Dimulai dengan belajar memahami emosi kita terlebih dahulu, emosi yang dimaksud ini adalah emosi negatif (marah, kecewa, sedih, frustasi, takut, dan lain-lain). Saat kita paham dengan emosi kita, kita juga paham emosi orang lain (anak). Memahaminya bisa kita lakukan dengan bertanya “kamu marah ya, takut ya” dengan cara yang lembut dan sayang.

      Jika bisa kita lakukan dengan benar maka anak akan merasa dimengerti oleh kita orangtunya dan ini adalah langkah awal anak tidak terjebak di lingkungan luar, dalam artian ada orang lain atau teman yang bisa mengerti dia (bisa saja memberikan pengaruh negatif). Cara ini adalah sebagai “antibody” terhadap penyakit di lingkungannya.

  2. Dear Bapak Timoty,

    Saya seorang karyawati swasta, mempunyai seorang anak perempuran berumur 8 tahun, akhir-akhir ini saya dibuat kewalahan sama anak saya, kebetulan anak saya sudah kelas 3 SD dengan kelas baru dan teman teman baru, dimana teman akrabnya tidak sekelas lagi. Sejak masuk sekolah selalu rewel dan uring-uringan, pembawaannya selalu saja mau ditemani sama saya, kalau ditanya kenapa? Dia selalau bilang khawatir dan takut maunya didampingi sama mamanya.

    Pak Timoty apa yang harus saya lakukan ya?

    Regards
    Henny

    Post a Reply
    • Itu adalah hal umum dan memang perlu adaptasi. Tumbuhkan rasa percaya diri dan keberaniannya, caranya? Gunakan teknik memasukan sugesti saat anak tidur Hypnosleep.
      Anda bisa coba pelajari Hypnosleep pada artikel Bisakah Hypnosis Mengubah Karakter Anak? dan lakukan secara konsisten.

  3. Saya dan suami bekerja, kami memiliki 2 orang putri berumur 5,5 tahun dan 2,5 tahun, yang ingin saya tanyakan:
    1. Bagaimana agar anak-anak lebih berani bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya ketika berada di lingkungan baru? Mengingat kami berdua bekerja, dan jauh dari saudara, sehingga anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan pembantu.
    2. Anak saya, terutama yang pertama sepertinya agak kesulitan untuk beradaptasi dengan teman-temannya di sekolah, paling sedih ketika dia bercerita bahwa di sekolah dicuekin sama teman-temannya, atau disalahin (misal ada temannya berkata “kamu nggak boleh main disini” atau “itu punya yang lain, kamu nggak boleh pakai”. Selama ini saya berkomentar agar dia lebih berani untuk mempertahankan pendapatnya, atau mencari teman yang lain. Tetapi sampai sekarang dia masih mendapatkan perlakuan seperti itu dari teman-temannya.

    Terima Kasih

    Post a Reply
    • 1. Silahkan pelajari dari beberapa tips dengan masalah serupa diatas.
      2. Berikan sugesti “kamu adalah anak yang disukai banyak teman, kamu mudah sekali bergaul dengan teman yang baik dan sayang dengan kamu, kamu anak yang percaya diri dan berani”. Gunakan teknik hypnosleep yang dapat anda pelajari pada artikel Bisakah Hypnosis Mengubah Karakter Anak? dan lakukan secara konsisten.

  4. Bagaimana cara memahami anak yang baru berumur dibawah 3 tahun? Terkadang apa yang dia inginkan saya tidak mengerti, karena tata bahasanya yang sulit saya pahami. Terkadang anak saya marah karena saya tidak mengerti apa yang dia maksudkan. Mohon untuk penjelasannya.

    Post a Reply
    • Coba ajarkan anak untuk sabar dan anda sebaiknya belajar mengerti anak dengan hati, bukan mengerti dari ucapan semata. Sering-seringlah berdua atau beraktivitas bersama, maka anda akan sangat mudah mengerti anak.

  5. Selamat siang pak

    Saya memiliki banyak masalah mengenai anak, makanya saya memesan buku 7 hari membentuk karakter anak tetapi sampai sekarang belum saya terima. Saya transfer tanggal 25 Juli, waktu komfirmasi pembayaran datanya tidak bisa masuk. Saya sudah coba menghubungi lewat telepon dari ext tersebut, saya disuruh menghubungi ext yang lain tetapi tidak nyambung. Tolong pak dibantu hubungi pihak yang bertanggung jawab untuk hal tersebut, saya rasa banyak yang kecewa kalo pelayanan seperti ini. Sekarang saya harus gimana? Saya tunggu solusinya

    Post a Reply
    • Terima kasih, kami menghargai informasi yang anda berikan. Saat ini kami sudah menginformasikan hal ini ke Manager Operational Gramedia.

      Kami akan jelaskan prosedur pengirimannya sebagai berikut.
      Gramedia mengirim buku pada tanggal 30 Juli melalui salah satu jasa pengiriman yang terpercaya. Ada ratusan buku yang dikirim secara bersamaan ke seluruh Indonesia secara terpisah.

      Mohon dengan sabar anda menanti kedatangan buku anda. Karena Gramedia mengirimkan secara massal untuk pre-order sebelum tanggal 30 Juli. Masalah telepon itu adalah nomor hunting, yang diberikan langsung oleh pihak penerbit untuk pemesanan buku.

      Apabila konfirmasi pembayaran anda sebelumnya gagal atau datanya tidak bisa masuk, anda dapat mengirimkan ulang data konfirmasi anda melalui link berikut ini ini. Setelah anda melakukan konfirmasi data, berikutnya pihak Gramedia akan mengirimkan email balasan berupa konfirmasi, apabila data dan pembayaran anda telah diterima oleh PT Elex Media Komputindo.

      http://www.pendidikankarakter.com/konfirmasi-pembayaran

      Semoga informasi ini bisa membantu
      Terima kasih

  6. Bapak Timothy, tolong saya dong

    Saya Lyta umur 28 tahun dan saya punay 2 orang anak, yang pertama 4,5 tahun, yang kedua 3 tahun. Dulu dengan anak saya yang pertama, saya dan suami sangat keras kalau Axel (anak pertama saya) berbuat ulah, kami pukul dia, bentak dia. Itu terjadi hingga dia berusia 3,5 tahun, setelah itu saya sadar dan berusaha berubah dari sisi saya.

    Saat dia lahir saya stress karena harus mengurus sendiri, sedangkan saya masih 23 tahun dan itu terbawa terus sampai dia 3,5 tahun itu. Saya ingin pulih dan akhirnya dengan nasehat teman, saya ajak dia jalan-jalan berdua saja beberapa kali. Jujur itu membuat hubungan saya dengan Axel pulih, rasa sayang itu tumbuh besar kembali dan sampai sekarang saya lebih bisa sabar dengan dia. Dengan adiknya saya lebih sabar, karena pengalaman dari merawat Axel.

    Nah Pak Timothy, sejak Axel berusia 2 tahun, saya mulai coba-coba online shop baju-baju remaja. Itu membuat perhatian saya dengan anak-anak berkurang, hingga puncaknya Maret-Juni kemarin banyak sekali orderan. Tetapi Axel tiba-tiba ketika sedang bermain dengan adiknya, dia terjatuh, kepalanya membentur dinding dan robek besar hingga harus dijahit. Saya merasa terpukul dan sedih luar biasa, semenjak itu saya mengurangi online shop saya, tetapi time dari pekerjaan online shop itu tidak kenal waktu. Orang bisa pagi siang sore malam bbm, oh saya bingung Pak. Saya sudah bicara dengan suami untuk berhenti online shop, tetapi dia bilang sampai Desember ini dulu baru berhenti karena dia ingin saya menopang keuangan kelurga kami. Tetapi di sisi lain, saya merasa perhatian saya dengan anak-anak jadi berkurang dan emosi saya pasti akan lebih naik karena kan anak-anak kadang ada permintaan ini itu tiba-tiba ketika saya sedang melayani customer dengan bbm. Itu membuat saya emosi dan bingung, jujur saya stress. Saya ingin berhenti dari online shop dan ingin mengurus anak lebih lagi, apalagi setelah membaca artikel-artikel Pak Timothy. Saya takut, ketika saya sibuk dengan urusan online shop anak-anak tumbuh semakin besar dan saya kehilangan moment-moment dimana saya bisa mendidik mereka lebih lagi, menjadi teman mereka lebih lagi.

    Mama saya bilang dari pengalamannya bekerja dan anak-anak dengan pembantu toh tidak apa-apa, tetapi saya merasa itu bukan saya. Dulu saya memang ingin bekerja, mencapai prestasi. Tetapi dengan anak 2 orang dan sekarang mereka mulai besar, saya takut kehilangan moment-moment dengan mereka. Apalagi usia sampai 5 tahun kan usia penting kita menanamkan yang baik kepada anak.

    Menurut Pak Timothy bagaimana? Saya harus berhenti atau cari pekerjaan lain atau tetep bekerja?
    Terima kasih ya pak

    Post a Reply
    • Kembali lagi disini berbicara tentang prioritas.
      Umumnya pasangan jika bermasalah secara mendasar adalah komunikasi. Jika komunikasi telah teratasi masalah berikutnya adalah keuangan. Disini, kami hanya memberi pandangan. Idealnya anak dapat ditinggal untuk bekerja dan beraktifitas adalah saat usia sekitar 11-12 tahun. Idealnya!
      Tetapi kami tidak bisa memaksa setiap orangtua melakukan hal yang sama. Kembali lagi ke prioritas, mana yang penting bagi anda? Keluarga atau materi? Keduanya penting. Ada baiknya berembuk dengan pasangan mengenai prioritas ini, keuangan keluarga sangat vital dalam hal ini, memang uang tidak bisa membeli kebahagiaan dan kebersamaan, tetapi dengan uang mampu memberi kesan yang berbeda dan menambah keindahan di dalam keluarga. Disamping itu untuk keluarga muda, kami sarankan menabunglah dan upayakan itu. Menabung untuk masa depan anda.

  7. Kalau boleh, saya sangat mengharapkan free e-book pendidikan karakter kiranya dapat dikirim kealmat e-mail saya.
    Terima kasih.

    Post a Reply
  8. Dear Bpk Timothy,

    Saya seorang ibu yang bekerja, karena banyak hal yang mengahruskan saya tetap bekerja, anak saya harus saya titipkan di daycare dimana ada sekolahan yang punya program daycare. Saya menitipkan anak saya dari pagi jam 9-5 sore. Anak saya dititipkan di daycare baru berjalan 2 minggu lebih, setiap kali dititipkan anak saya yang baru berumur 13 bulan selalu menangis.

    Pertanyaannya, apakah hal ini akan mempengaruhi perkembangan karakter dan psikologis anak saya?
    Tolong berikan referensi buku yang harus saya baca sehingga saya dapat mempelajari secepat mungkin, agar hal penitipan anak saya ini bisa mengembangkan karakter anak saya menjadi pribadi yang menarik dan psikologis anak saya tidak terganggu.

    Terima kasih atas bantuannya.
    Salam Sukses untuk semua keluarga muda.

    Best Regards,
    Sherla

    Post a Reply
    • Ada kemungkinan anak anda belum nyaman atau kenal dengan pengasuh di daycare, atau mungkin (ini hanya kemungkinan) anak anda mengalami trauma. Banyak penyebab anak menangis, tangisan adalah 1000 bahasa perasaan dan emosi. Coba anda cari tahu apa tepatnya yang menyebabkan anak anda seperti itu.

      Anda bisa membaca buku 7 Hari Membentuk Karakter Anak sebagai referensi mendidik anak.

  9. Pagi Pak Timothy

    Saya memiiki anak perempuan 5 tahun dan 6 bulan, si kakak sudah sekolah TK, setelah mempunyai adik otomatis perhatian kami terbagi dan mungkin lebih ke adiknya, karena kami sendiri merasa si kakak sudah mandiri dan sering membantu saya.
    Tetapi ada kalanya dia selalu minta ditemani tidur malam dan tidak mau sendirian, meskipun dalam 1 kamar tetapi tempat tidur terpisah.

    Suatu hari si kakak bertanya kepada ayahnya “yah, kalau saya di jatuhin pohon, terus meninggal, ayah nangis nggak?”
    Pertanyaan tersebut akhirnya menjadi suatu beban buat kami, kenapa dia bisa mempertanyakan hal itu, apakah itu hal biasa atau tanda-tanda penting?

    Terima kasih Pak

    Post a Reply
    • Kemungkinan hanya ingin mencari perhatian dan dia ingin dirinya diinginkan.
      Perhatian boleh terbagi tetapi kualitas perhatian harus tetap diutamakan yang terbaik.

  10. Dear Pak Timothy

    Saya Seorang karyawan swasta, saya mempunyai anak laki-laki berumur 6,5 tahun kelas 1 SD. Anak saya mempunyai karakter yang cengeng, kurang percaya diri (tetapi sebenarnya mampu), hiper aktif, tidak fokus jika belajar dan jika mengalami kesulitan dalam belajar dia akan mencari kesibukan lain. Kemungkinan faktor lain adalah cara mendidik anak yang terlalu keras dari ibunda nya.

    Yang paling saya khawatirkan beberapa kali mengikuti ulangan di sekolah tidak bisa dan menangis.
    Mohon saran dan masukannya yang terbaik.

    Terima kasih

    Post a Reply
    • Bisa jadi menangis adalah reaksi takut karena standrad yang diberikan tinggi dan ada hukuman dibalik itu. Coba pahami saja jika ulangan belum bisa artinya dia tidak pahamm ateri itu, bukan penentu anak bodoh atau pintar.

  11. Saya tertarik dengan e-book pendidikan karakter dan berminat untuk segera membacanya.
    Atas apresiasi Bapak, saya mengucapkan terima kasih.

    Post a Reply
    • Untuk pembelian ebook dapat dilakukan secara online.
      Dengan cara melakukan pembayaran secara transfer.

      Ke BCA 463 040 6078
      Atas nama Alex Hadi Prajitno
      Sebesar Rp 59.000

      Untuk memudahkan pengecekan, ada baiknya jika anda mentransfer ke rekening BCA dengan jumlah yang unik.
      Misalnya Rp 59.088 atau Rp 59.001.

      Setelah melakukan pembayaran, silahkan konfirmasikan nama lengkap anda dan jumlah yang anda transfer melalui email.
      Link download akan dikirimkan melalui email setelah konfirmasi pembayaran kami terima.

      Terima Kasih

  12. Terimakasih, sangat bermanfaat. Salam.

    Post a Reply
  13. Selamat malam pak.
    Saya mau tanya, anak saya berusia 3 tahun (anak satu-satunya) di rumah saya mengasuh sambil bekerja (percetakan dan fotokopi di rumah), kata gurunya di sekolah anak saya suka sekali melamun, kira-kira apa penyebabnya dan apa solusinya biar anak saya tidak suka melamun lagi di sekolah?
    Terima kasih.

    Post a Reply
    • Mungkin karena tontonan tv-nya, berikan film yang gerakan lambat dan tidak agresif. Karena untuk anak 3 tahun gurunya pasti mengajar dengan lambat dan apabila dia menonton film yang cepat maka hal yang lambat tidaklah menarik.

  14. Artikelnya sangat bermanfaat.

    Post a Reply
  15. Dear Bapak Timothy,

    Saya setuju sekali dengan artikel yang bapak buat. Orangtua saya tidak pernah mengerti bahwa saya sudah besar dan mempunyai mimpi sendiri. Saya ingin bekerja di Bandung tapi ayah saya ingin kami kumpul di Jakarta. Saya pernah mendapat kerja di Bandung tetapi mereka mencari kesalahan saya yaitu gaji yang kecil dan memarahi saya juga memaksa saya untuk meninggalkan pekerjaan saya, padahal itu pekerjaan impian saya.

    Jujur dari kecil saya sering merasa ingin bunuh diri setiap diperlakukan seperti itu. Ternyata adik perempuan saya juga merasa yang sama. Sekarang saya sudah putus asa dan terpaksa mencari kerja di Jakarta. Gairah hidup saya pun hilang, saya benci dengan keputusan saya. Saya merasa hidup saya sekarang bukan hidup saya tapi hidup orangtua saya.

    Bagaimana ya pak solusinya?

    Post a Reply
    • Berdoalah dan berkomunikasilah lebih bijak. Tunjukan melalui sikap jika kata-kata tidak menmpan bagi orangtua anda. Bahwa ini adalah mimpi anda, mungkin sekarang kecil tetapi ini adalah langkah awal, bayi saja memulai dengan langkah kecil dan orang dewasa selalu bergerak lebih maju dan cepat. Bersabarlah dan percayalah dimana ada kemauan disitu ada jalan.

  16. Sangat berharga ilmunya, terima kasih mudah-mudahan kami sebagai guru dapat menerapkan di sekolah terutama pada anak sendiri.

    Post a Reply
    • Saya seorang karyawati, mempunyai 2 orang anak berumur 13 tahun dan 9 tahun. Keduanya sama-sama pemalu dan kurang percaya diri, apalagi kakaknya kurang terbuka dalam hal apa saja. Kalau dalam hal pelajaran dia selalu bisa, tetapi waktu ulangan selalu mendapat nilai jelek. Waktu saya tanya katanya ragu-ragu dalam menjawab. Mohon solusinya, terima kasih.

    • Anda bisa mendownload ebook kami tentang cara meningkatkan percaya diri pada anak, dan itu juga berkaitan dalam mengerjakan ulangan anak. Singkatnya anda perlu tahu lebih dalam tentang anak anda dan belajarlah untuk memaksimalkan potensinya.

  17. Selamat sore, langsung yah ke pertanyaan.

    Saya punya keponakan kelas 5 SD. Tetapi menurut saya pubernya kecepetan, ibarat anak masa kini banget deh. Salah satunya, sudah kenal rasa suka ke teman laki-lakinya. Paham arti dari pacaran, putus, jadian, dan lain-lain. Sedih, karena disatu sisi memang kontrol orangtuanya kurang baik. Karena seperti tidak ada kesepakatan diantara orangtuanya dalam hal batasan-batasan mendidik anaknya. Tapi, kalau orangtuanya ditegur, mereka tidak suka “anak gue, ya terserah gue”.

    Jadi kalau kita mau pendekatan ke anak itu, bantu mendidik ya mentah karena ortunya tidak mendukung. Yang sedihnya lagi, anaknya itu membantah, dalam artian membangkang, bukan mempertahankan haknya. Dan orangtuanya pun kalah, tidak bisa memberi argumentasi yang baik. Anak ini jadi tidak segan dengan orangtuanya, neneknya, om dan tantenya.

    Kalau ingin membantu, kita sebagai yang diluar lingkaran, harus seperti apa ya?
    Terima kasih

    Post a Reply
    • Berikan contoh dan berdoalah buat dia. Bagus anda peduli dengan dia, hiduplah yang baik untuk memberikan contoh, dan kelak perbuatan anda bercerita banyak daripada perkataan anda.

  18. Saya seorang ibu rumah tangga, saya memiliki seorang putri berumur 4 tahun 8 bulan.
    Yang ingin saya tanyakan, anak saya sering sekali menginginkan barang yang dimiliki temannya dan jika tidak diberi maka dia tidak segan untuk merebutnya. Hal apa yang harus saya lakukan?

    Terima kasih

    Post a Reply
    • Tegaskan bahwa itu bukan miliknya. Tunjukan mana miliknya dan mana yang bukan.

  19. Saya mempunyai adik ipar perempuan umurnya 17 tahun, dia cerdas tetapi masih belum bisa mengontrol emosinya. Apabila punya keinginan dia suka nekad tanpa mau berfikir baik-buruknya, sehingga kesannya keras kepala. Sebagai orangtua mertua saya sudah banyak memberi perhatian kepada dia, tetapi dia tidak bisa memahami penjelasan dan perhatian orangtua untuk kebaikan dirinya. Pertanyaanya, bagaimana solusi mengahadapi remaja tipe seprti ini?

    Terima kasih

    Post a Reply
    • Mohon maaf informasi yang anda berikan tidak lengkap, perhatian seperti apa yang anda berikan? Anak jika usia remaja umumnya adalah manusia yang paling benar dan tahu bagaimana menjalankan model kehidupannya. Menghakimi dan sok tahu dengan remaja bukan pintu masuk yang baik untuk membantu kehidupannya.

  20. Saya seorang guru di SMP, hampir semua peserta didik saya selalu bertingkah bolos, bicara kasar, tidak disiplin, sering berceloteh dibelakang, dan sebagainya. Padahal saya selalu berusaha memahami karakter mereka dan memberikan arahan kepada mereka, tetapi anehnya pada saat berhadapan dengan saya mereka nurut, ketika dengan guru yang lain mereka kembali bertingkah, seolah mereka tidak mau mendengarkan gurunya. Kira-kira apa yang harus saya lakukan agar mereka mau berubah menjadi yang lebih baik dan sadar bahwa belajar itu penting serta mendengarkan guru-gurunya?

    Mohon bantuannya.

    Post a Reply
    • Ajari guru yang lain bersikap seperti anda memperlakukan mereka.

Leave a Reply