4 Rahasia Mengatasi Depresi

4 Rahasia Mengatasi Depresi

Datang tak diundang, pergi harus diusir dengan paksa! Apa itu? Itulah Depresi. Menakutkan? Pasti, karena ini menyerang semua kalangan manusia, baik selebritis, orang kaya, dan juga orang miskin yang sering sok bahagia.

Apakah Depresi itu? Depresi adalah sama dengan perasaan sedih, murung, kesal, tidak bahagia, dan menderita. Orang pada umumnya menggunakan istilah depresi untuk memperjelas pada keadaan yang melibatkan kesedihan dan emosi negatif yang mengganggu.

Emosi negatif itu seperti rasa kesal, tidak punya harga diri, tidak bertenaga, kencederungan bunuh diri, dan bahkan sampai melakukan tindakan bunuh diri. Statistik dari WHO menyatakan bahwa depresi merenggut lebih dari 850.000 jiwa setiap tahunnya.

Ada dua macam depresi, yaitu depresi ringan dan berat (menetap). Depresi ringan datang dan pergi dengan sendirinya, ditandai dengan hati yang berat, sedih, dan murung.

Sedangkan depresi berat dicirikan oleh perasaan tidak berguna atau bersalah serta sering disertai gejala fisik seperti turun berat badan, sakit kepala, hingga tidak enak badan. Penderita depresi berat cenderung untuk menarik diri, tidak peduli pada lingkungan sekitar, serta melakukan aktivitas fisik yang terbatas.

Apa yang dapat menyebabkan seseorang mengalami depresi? Sebenarnya ada banyak hal, namun yang umum terjadi atau contoh yang sering kita temui adalah :

  • Tekanan dalam kehidupan sehari-hari (tuntutan pekerjaan, sekolah, bahkan masalah rumah tangga yang tidak kunjung selesai).
  • Masalah dan konflik dalam pernikahan (perselingkuhan pasangan, anak yang tidak dapat diatur, konflik dengan mertua, ketidak cocokan dengan pasangan).
  • Masalah dan tekanan ekonomi atau keuangan (hutang yang menumpuk atau piutang yang belum terbayar).
  • Kemampuan dan kecakapan sosial yang buruk (harga diri rendah karena merasa kurang menarik, walaupun sudah berpenampilan baik dan sopan).
  • Cara berpikir yang buruk (sering merasa khawatir dan cemas yang berlebihan, merekayasa hal yang menakutkan dan konyol sekali untuk terjadi).

Hal diatas masih bisa bertambah lagi seiring dengan berkembangnya pola hidup dan pola sosialisasi. Kecenderungan orang yang mengalami depresi adalah mereka seringkali merespon apa yang ada dipikirannya bukan pada faktanya.

Misalnya pada saat kita bertemu teman lama, kemudian bercanda. Saat dirumah kita berpikir cara bercanda kita kelewatan, lalu timbul pikiran bahwa teman kita tersinggung (padahal tidak), lalu perasaan bersalah ini kita bawa dalam keseharian hidup kita.