Inilah 2 Penyebab Utama Rendahnya Rasa Percaya Diri Pada Anak

Inilah 2 Penyebab Utama Rendahnya Rasa Percaya Diri Pada Anak

Seandainya anak-anak kita takut menghadapi kegagalan, niscaya mereka tidak akan pernah bisa berjalan hingga kini. Sebab sekedar untuk berjalan saja, banyak kesulitan yang harus mereka hadapi dan tidak sedikit rasa sakit yang harus mereka tanggung.

Hidung mungkin sudah lebih dari sepuluh kali tersungkur ke tanah hanya karena mereka belajar merangkak. Lutut entah berapa kali mengalami luka. Tetapi anak-anak tidak pernah putus asa. Anak-anak senantiasa tetap bersemangat, sampai orang tua yang memadamkannya dengan alasan kasih sayang. Apakah anda kenal dengan orang tua yang seperti ini?

Banyak sekali orang tua bertanya “Mengapa anak saya pemalu? Mengapa anak saya penakut?” dan sebutan lainnya untuk memperjelas maksud yang sebenarnya adalah masalah rasa percaya diri.

Apakah ini menjadi sebuah masalah? Tentu iya. Karena banyak sekali pertanyaan untuk mendapatkan solusi atas masalah ini. Anda pasti khawatir akan perkembangan kehidupan sosial anak anda di masa depan.

Selain itu, anak-anak juga akan selalu tergantung kepada orang tuanya. Anak-anak pemalu cenderung membatasi pengalaman mereka, tidak mengambil risiko sosial yang diperlukan dan hasilnya mereka tidak akan memperoleh kepercayaan diri dalam berbagai situasi sosial.

Apakah ada kasus serupa? Banyak! Salah satu fenomena ini dapat menjadi ilustrasi nyata dalam kehidupan yang berkembang saat ini, ada banyak alasan orang tua memanjakan anak.

Di kota besar sudah menjadi alasan klasik apabila orang tua kasihan dengan anak yang ditinggal sendirian di rumah hanya dengan pembantu. Maka semua fasilitas pun disediakan.

Sementara itu ada orang tua yang tergoda memanjakan anak karena trauma dengan masa lalunya yang sulit dan pahit. Hidup dalam kemiskinan orang tua yang menyakitkan. Setelah dirinya menjadi “orang” alias kaya, mereka ingin anaknya senang dan fasilitas diberikan secara berlebihan.

Akhirnya harga diri anak pun relatif rendah dan rasa percaya diri mereka tidak murni berasal dari dalam diri mereka sendiri, tetapi bergantung pada “alat” yang mereka miliki seperti handphone, mobil, perhiasan dan lain-lain. Sebab harga diri dan rasa percaya diri mereka dibangun atas apa yang mereka miliki (secara lahiriah) bukan karakter dan nilai hidup yang sehat.

You have Successfully Subscribed!