Membangun Karakter Sejak Pendidikan Anak Usia Dini


Membangun Karakter Sejak Pendidikan Anak Usia Dini

Kawan, jika saya ditanya kapan sih waktu yang tepat untuk menentukan kesuksesan dan keberhasilan seseorang? Maka, jawabnya adalah saat masih usia dini. Benarkah? Baiklah akan saya bagikan sebuah fakta yang telah banyak diteliti oleh para peneliti dunia.

Pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (golden age).

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.

Nah, oleh karena itu, kita sebagai orang tua hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang. Kita sebagai orang tua kadang tidak sadar, sikap kita pada anak justru akan menjatuhkan si anak. Misalnya, dengan memukul, memberikan pressure yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri atau minder, penakut dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa. Ketika dewasa karakter semacam itu akan menjadi penghambat baginya dalam meraih dan mewujudkan keinginannya. Misalnya, tidak bisa menjadi seorang public speaker gara-gara ia minder atau malu. Tidak berani mengambil peluang tertentu karena ia tidak mau mengambil resiko dan takut gagal. Padahal, jika dia bersikap positif maka resiko bisa diubah sebagai tantangan untuk meraih keberhasilan. Anda setuju kan?

Banyak yang mengatakan keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa jenius otak kita. Semakin kita jenius maka semakin sukses. Semakin kita meraih predikat juara kelas berturut-turut, maka semakin sukseslah kita. Benarkah demikian? Eit tunggu dulu!

Saya sendiri kurang setuju dengan anggapan tersebut. Fakta membuktikan, banyak orang sukses justru tidak mendapatkan prestasi gemilang di sekolahnya, mereka tidak mendapatkan juara kelas atau menduduki posisi teratas di sekolahnya. Mengapa demikian? Karena sebenarnya kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan otak kita saja. Namun kesuksesan ternyata lebih dominan ditentukan oleh kecakapan membangung hubungan emosional  kita dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Selain itu, yang tidak boleh ditinggalkan adalah hubungan spiritual kita dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Tahukah anda bahwa kecakapan membangun hubungan dengan tiga pilar (diri sendiri, sosial, dan Tuhan) tersebut merupakan karakter-karakter yang dimiliki orang-orang sukses. Dan, saya beritahukan pada anda bahwa karakter tidak sepenuhnya bawaan sejak lahir. Karakter semacam itu bisa dibentuk. Wow, Benarkah? Saya katakan Benar! Dan pada saat anak berusia dini-lah terbentuk karakter-karakter itu. Seperti yang kita bahas tadi, bahwa usia dini adalah masa perkembangan karakter fisik, mental dan spiritual anak mulai terbentuk. Pada usia dini inilah, karakter anak akan terbentuk dari hasil belajar dan menyerap dari perilaku kita sebagai orang tua dan dari lingkungan sekitarnya. Pada usia ini perkembang mental berlangsung sangat cepat. Pada usia itu pula anak menjadi sangat sensitif dan peka mempelajari dan berlatih sesuatu yang dilihatnya, dirasakannya dan didengarkannya dari lingkungannya. Oleh karena itu, lingkungan yang positif akan membentuk karakter yang positif dan sukses.

Lalu, bagaimana cara membangun karakter anak sejak usia dini?

Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya. Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.

Nah, sekarang kita memahami mengapa membangun pendidikan karakter anak sejak usia dini itu penting. Usia dini adalah usia emas, maka manfaatkan usia emas itu sebaik-baiknya.

Salam

Timothy Wibowo

Miliki Cara Jitu Dalam Membentuk Karakter Anak

Klik Disini !!

67 Comments

  1. saya merasa terlanjur sering bersikap keras dan kasar pada anak, sekarang dia sudah berusia 4 tahun.
    apa yang bisa saya lakukan untuk membuatnya bisa lebih percaya diri?

    Post a Reply
    • Mintalah maaf kepada anak anda atas kelakuan anda. Sering-seringlah memberikan sugesti kepada anak anda, “kamu anak hebat, kamu anak luar biasa”.
      Ada banyak cara untuk membuat anak lebih percaya diri, untuk penjelasan lengkapnya anda bisa membaca di buku kami 7 Hari Membentuk Karakter Anak yang akan terbit di Gramedia 06 Agustus 2012.

  2. Bagaimana cara yang efektif agar bisa mengendalikan emosi, jika anak usia dini belum bisa menurut pada apa yang kita arahkan?

    Post a Reply
    • Berusahalah memiliki sudut pandang yang berbeda. Cobalah untuk melihat dari sudut pandang anak, misal: jika anda jadi anak, mengapa asik sekali bermain pasir yang kotor walau sudah mandi? Bisa jadi itu barang baru bagi anak dan anak sedang belajar sesuatu disana. Dan seringkali kita orangtua menganggap itu kotor. Jadi dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda kita bisa lebih sabar.

  3. Selamat pagi

    Jika kita baru sebagai orang tua, tentu belum banyak pengalaman dan memiliki keinginan yang banyak untuk kecerdasan anak. Lalu yang menjadi pertanyaan, jika anak usia emas di 2 tahun atau 3 tahun kita berikan banyak ilmu seperti mengenal dunia air seperti kita ajak berenang, kemudian kita latih kembali dengna bahasa inggris agar terbiasa nantinya, lalu kita tambah lagi dengan dunia musik yang intens. Kegiatan tersebut dalam 1 minggu kita berikan 3 kali berenang, belajar bahasa inggris dan musik. Apakah anak akan menjadi strees karena dididik seperti itu?

    Terima Kasih

    Post a Reply
    • Tidak, ingat itu hanya stimulasi hanya pengenalan saja agar anak tidak jenuh. Untuk usia seperti itu adalah usia anak bermain, fokuskan hanya untuk anak senang bukan fokus pada belajar atau harus paham. Buatlah kesan semua ini (belajar) adalah bermain agar mengasyikan bagi anak.

    • Dear,

      Mohon penjelasan untuk anak saya, Noel 3 tahun dan adiknya Joel 2 tahun, setiap kali mereka bertemu dengan orang yang pernah mereka kenal sering menutup muka dengan tangan, terkesan malu-malu. Bagaimana caranya bisa mengatasi hal ini kepada kedua anak saya?

      Trims

    • Untuk langkah awalnya, cobalah untuk melatih anak untuk bermain peran bersama anda dahulu sebelum bersama orang lain. Hal ini dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri anak.

  4. Anak saya umurnya 3 tahun 8 bulan, sekolah TK A (nol kecil). Mulai dari lahir anak saya selalu ikut saya kerja, terus mulai sekolah nol kecil ini anak saya tinggal di rumah karena haruss ikut les.

    Terus pertanyaan saya, anak dengan umur 3 tahun 8 bulan itu sudah siapkah anak itu untuk saya tinggal di rumah dan sudah siapkah anak itu untuk mengikuti berbagai macam les?

    Anak saya les menulis dan les menggambar.
    Mulai umur berapa anak siap untuk mengikuti berbagai macam les?
    Terima kasih

    Post a Reply
    • Anak pada seusia itu tidak perlu dipaksa belajar, lebih tepatnya dikenalkan. Jika dikenalkan atau distimulasi bisa dari usia kapan saja. Apabila ingin ditinggal di rumah, saat ini bukanlah saat yang tepat.

  5. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana caranya mengatasi anak berumur 2 tahun yang tidak bisa diberi pengertian? Apa yang dia mau harus diturutin dan suka memukul temannya.

    Post a Reply
  6. Assalamualaikum….

    Saya seorang ibu rumah tangga, berusia tiga puluhan, sejak anak saya berusia 1-4 tahun saya membiarkan dia melakukan apa saja sepanjang itu tidak membuat dia celaka dan luka, dari masak apa saja sampai main dipinggir sumur, artinya jika kita memberikan kebebasan di sekitar kita, dengan sendirinya anak sejak usia 5 dan seterusnya akan tumbuh kembang sendiri diluar dugaan saya sebagai ibunya.

    Keunikan-keunikan terhadap prilaku anak akan membuat saya menjadi kagum dengan cara dia sendiri. Dari sejak usia 5 tahun masuk SD sampai sekarang ke perguruan tinggi dia melakukan sesuatu pekerjaan diurus sendiri, saya cuma memberikan dukungan dana untuk kebutuhan sepanjang dia keperluan di bangku kuliah, dan sekarang anak saya diterima di perguruan tinggi negeri favorit.

    Demikian dari saya mohon maaf jika saya mengurui ibu-ibu yang lain.
    Titip salam untuk semua ibu-ibu baik ibu muda, ibu yang sedang selalu konfik, sampai kepada usia senja, berikan kepercayaan sepenuhnya kepada anak, sehingga dia kelak kemudia hari akan berani bertanggungjawab terhadap diri sendiri.

    Wasalam
    Bu Zen di Malang

    Post a Reply
  7. Artikel yang anda buat, sangat membantu saya untuk membuat esai. Terima kasih penulis

    Post a Reply
  8. Bacaan yang bagus.
    Semoga semua orangtua mengerti dan dapat mendidik anak Indonesia ke arah yang lebih baik lagi.

    Post a Reply
  9. Assalamu’alaikum, mohon izin dan ikhlasnya mau copas artikelnya buat di blog saya, biar teman-teman bisa baca juga
    Terima kasih

    Post a Reply
  10. Seringkali pendidikan karakter berbenturan dengan pendidikan akademis. Tuntutan akan kemampuan calistung dan persaingan ketat dalam prestasi akademik di masa sekolah kelak, menjadi penyebab orang tua mengabaikan pendidikan karakter anaknya.

    Bagaimana mengatasi persoalan ini?

    Post a Reply
    • Kembali lagi kepada kepbijakan di sekolah, visi dan misi sekolah tersebut. Ini adalah masalah klasik yang sering dialami dalam mengembangkan pendidikan karakter.

  11. Saya memasukkan anak saya sekolah sejak umurnya 2,2 bulan, pikiran saya saat itu adalah saya ingin agar anak saya belajar sedini mungkin di dalam kelompok bermain / paud, karena pekerjaan saya saat ini sebagai pedagang, saya berpikir lebih baik anak saya sekolah daripada dia main-main ditanah dengan anak-anak tetangga seusianya. Sedangkan di lingkungan rumah kami itu masih awam kalau ada anak balita sebelum berumur 4 tahun yang sekolah, mereka berpikir kasihan sekali anak saya, sekecil itu sudah saya sekolahkan.

    Tetapi sebenarnya dalam hati kecil saya agak sedikit merasa takut :
    1. Takut anak saya dewasa sebelum waktunya (meskipun sekarang sudah sangat pintar dan nyambung kalau diajak ngomong)
    2. Takut masa bermainnya jadi tidak lagi selayaknya anak-anak balita seusianya
    3. Takut dia bosan kelamaan sekolah jadi kurang lebih 4 tahun sebelum masuk SD

    Selain itu ada beberapa kelebihan yang membuat saya yakin akan keputusan saya menyekolahkan anak saya sedini mungkin, yaitu :
    Sejak 2,2 bulan (sekarang sudah 3,5 bulan) anak saya sudah berani sekolah, tidak menangis, tidak takut meski tidak pernah saya tungguin, mudah bersosialisasi, mudah mengikuti gerakan atau lagu-lagu yang sering dinyanyikan di Paud, bahkan doa sehari-hari.

    Bagaimana menurut anda tentang pola pikir saya ini? Sudah benarkah atau masih ada yang keliru?
    Mohon pencerahannya
    Terima kasih

    Post a Reply
    • Bagi saya terlalu dini untuk bersekolah. Ada masa (usia) anak main, belajar dan kelak dewasa bekerja. Nah ada baiknya tahapan tersebut tidak ditukar. Tetapi jika sekolah tersebut lebih ke arah menstimulasi akademis anak, saya rasa tidak masalah dan jika anak tersebut suka sekolah bagus sekali.

  12. Bagaimana cara menghadapi pola anak yang super aktif?

    Post a Reply
    • Berikan berbagai macam kegiatan positif untuk menyalurkan energinya, seperti berenang, sepak bola, musik atau apapun yang positif.

  13. Numpang copas ya, infonya menarik banget untuk wali murid kami
    Terima kasih

    Post a Reply
  14. Saya sekarang berumur 21 tahun sedang menuju skripsi. Saya punya anak asuh 2, saya memang bukan orang tuanya tapi saya ingin belajar membangun karakteristiknya itu seperti apa, sekarang anak itu berusia 3 tahun dan 7 tahun.
    Apakah saya bisa membangun karakteristik anak itu karena orangtuanya sering meninggalkannya?

    Post a Reply
    • Bisa, dengan kasih sayang dan berikan contoh yang tepat kepada mereka. Serta bentuk lingkungan sesuai dengan karakter yang ingin dibentuk, misalnya jika ingin anak mandiri untuk melakukan tugasnya maka berikan stimulasi untuk mereka melakukan sendiri, bangun tidur biasakan membersihkan tempat tidurnya, menyiapkan buku pelajaran sendiri dan lain-lain.

  15. Anak saya umur 2 tahun 11 bulan, bagaimana caranya mengatasi anak yang nakal?
    Semua keinginannya harus diikuti kalau tidak dia akan memberontak

    Post a Reply
    • Didik dengan disiplin, pahami panduan disiplin di e-book 6 Cara Mendisplinkan Anak yang kami berikan secara gratis.
      Anak masih sekecil itu tidak nakal hanya dia belum tahu aturan dan batasan, yang kita perlukan adalah memberitahunya.

  16. Saya sangat senang dengan informasinya.

    Post a Reply
  17. Kalau penanganan terhadap anak SD yang super aktif bagaimana?

    Post a Reply
    • Cobalah untuk berikan game dalam kegiatan belajar dan aktifitas yang menantang.

    • Bagaimana menghadapi anak umur 7 tehun yang super aktif?

    • Berikan kegiatan ekstra yang produktif dan menguras energy, misalnya berenang atau sepak bola.

  18. Assalamualaikum.

    Saya ibu rumah tangga dengan 2 anak (5 tahun dan 1 tahun). Selama ini saya terlalu keras pada anak pertama (sering memarahi dan membentak untuk hal-hal sepele sekalipun). Saat ini anak pertama saya terlihat takut dan menjauhi saya, lebih pendiam dan sering melamun. Saya khawatir dia mengalami stress sebagai dampak dari perlakuan keras saya padanya. Apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki keadaan ini semua?

    Terima kasih sebelumnya.

    Post a Reply
    • Pertama pelajari mengenai tumbuh kembang anak, dan meminta maaf kepada anak, serta tunjukan perubahan anda. Setelah minta maaf tunjukan sikap dan perubahan anda yang konsisten.

  19. Apakah dengan adanya PAUD masa depan anak bisa menjamin kesejahteraan hidupnya?
    Terima kasih

    Post a Reply
  20. Artikel yang baru saya cari.
    Terima kasih, sangat bermanfaat.

    Post a Reply
  21. Apakah saat kita mengajarinya belajar harus dengan tegas atau bagaimana supaya anak mau mengerti?

    Post a Reply
    • Buatlah fun, seperti bermain game. Buatllah belajar adalah hal yang seru dan menyenangkan.

  22. Mohon informasi lebih lanjut tentang pendidikan karakter bagi anak usia dini.
    Terima kasih

    Post a Reply
  23. Selamat siang
    Bagaimana cara agar kita sabar mengadapi anak yang dikatakan usia emas?

    Post a Reply
  24. Mohon penjelasan untuk anak saya Rainer (laki-laki) 4 tahun (sekolah kindergarten 1), kalau di rumah anak saya periang, bercanda, (suka teriak dan bergaul), apalagi sama teman sebayanya. Jiwa mengatur terhadap temannya tinggi, tetapi kenapa di lingkungan sekolah berbalik. Menurut (miss-teacher) anak saya pemalu, disuruh diam, disuapin teacher lama (padahal di rumah lahap makannya), disuruh bicara diam (di rumah cerewet). Bahkan melotot, sampai teachernya menegur dan anak saya menangis.

    Dengan kejadian seperti itu anak saya malas sekolah. Anak saya sebenarnya senang belajar. Saat awal sekolah semangat, tetapi seminggu ini malas, bahkan kalau berangkat sekolah pakai menagis terus. Sebagai orang tua saya jujur sedih, apakah cara mengajarnya terlalu keras atau bahkan sebaliknya anak saya tidak sanggup mengikiuti.

    Tetapi menurut teacher, anak saya sebenarnya pintar. Kalau soal ikutin pelajaran ok, cuma saat disuruh menulis, bicara, susah. Malah bengong. Bagaimana caranya bisa mengatasi hal ini kepada anak saya, sebenarnya saya ingin menghentikan sekolahnya, tetapi menurut teachernya “JANGAN”. Tunggu saja, mungkin tidak mood. Anak saya karakternya SENSINTIF, kalau dikerasi dia menangis, makanya saya kalau bicara berusaha mengarahkan supaya tidak menangis. Menurut teacher, anak saya laki-laki sangat halus, padahal di rumah dia sangat jagoan, sangat berbanding terbalik.

    Mohon bagaimana ini? Terima kasih.

    Post a Reply
    • Coba diobservasi (diamati di sekolah), adakah teman yang mengaanggu atau ada hal yang membuat dia tidak nyaman.
      Pelajari tipe kepribadian melankolis agar anda memahami anak anda.

  25. Anak saya berusia 3 tahun, sudah punya adik sejak usia 2 tahun.

    Sudah beberapa bulan ini dia minta sekolah tetapi saya masukin les baca tulis dan baca iqro. Tidak lama-lama sih belajarnya cuma 1 jam, itu pun sudah saya bilangin jangan dipaksakan pada gurunya. Kira-kira ada tidak efeknya nanti di usia dewasakalau dia terlalu cepat belajar umum begitu?

    Satu lagi anak saya kalau saya larang atau saya suruh sering bilang tidak mau. Saya kadang kebawa kesel lalu saya pakai pemukul untuk mengancamnya sekedar agar dia patuh aja. Kira-kira bagaimana ya?

    Post a Reply
    • Tidak perlu diancam, jika dia mau nya belajar dan tidak dipaksa tidak masalah.

  26. Anak saya laki-laki berusia 1,5 tahun. Saya memang mengajarkan kepada anak saya untuk menunjukkan rasa sayangnya, salah satunya dengan mencium pipi. Seperti ke orang tua, saudara sebayanya. Akan tetapi saya dan suami saya juga menunjukkan ekspresi sayang kami didepan anak kami tersebut (seperti cium pipi, peluk, atau cium bibir) suatu ketika saya mengajak anak saya ke tempat bermain, disana ada anak perempuan kurang lebih berusia 2 tahun. Sebelumnya anak saya memperhatian anak perempuan dan anak-anak lainnya sambil bermain di sekeliling, lalu tiba-tiba ketika anak saya berpapasan dengan anak perempuan tersebut, anak saya mencium anak perempuan tersebut sepertinya ingin mencium di pipi, tetapi karena tidak sampai jadi hanya tercium lengan anak perempuan tersebut. Apakah cara mendidik kami tergolong salah, mohon jawaban dan penjelasan pendidik karakter. Terima kasih.

    Post a Reply
    • Tidak, berikan penjelasan cium hanya dengan siapa saja. Ayah, ibu dan saudara bukan dengan orang lain.

  27. Artikel-artikelnya sungguh luar biasa. Membantu kami para orang tua untuk menjadi orang tua yang cerdas.
    Thanks ilmunya ya.

    Post a Reply
  28. Jarak kantor dengan rumah mertua saat itu membuat saya harus meninggalkan Nania yang diasuh dengan mertua. Akhirnya Nania dimanja dan dituruti semua keinginannya. Saat ini yang terjadi adalah apa yang jadi kehendaknya harus terlaksana. Apalagi ayahnya selalu mengiyakan, tetapi seiring waktu Nania bisa juga diajak kompromi tetapi selalu dengan persyaratan. Baguskah hal seperti itu?

    Post a Reply
    • Tidak, itu adalah awal yang buruk dan akan membuat anak bingung, “kenapa nenek baik dan mama kok banyak aturan”.

  29. Anak saya Rasya usianya baru 2 tahun. Pada saat 10 bulan adik saya melahirkan, dan pada saat itu saya merasa kalau dia mempunyai rasa cemburu pada adik sepupunya tersebut. Sampai sekarang jika dia bertemu dengan adik sepupunya selalu melakukan hal-hal yang kadang membuat saya kesal dan tidak enak pada adik saya, seperti memukul, menendang ataupun mengambil mainan adik sepupunya. Bagaimana cara mengatasinya? Trima kasih atas balasannya.

    Post a Reply
    • Kalau bertemu hindari untuk membandingkan, kemungkinan anak anda cemburu. Itu wajar dan normal, berikan kata-kata positif bahwa anda sangat sayang kepada anak anda. Berikan kata-kata sugestif tentang hubungan dia dengan sepupunya.

  30. Anak saya berumur 4 tahun sudah sekolah TK kecil, kalau di sekolah dia tidak mau blajar selalu ingin bermain, tetapi kalau di rumah mau belajar. Sudah mengenal huruf dan angka, tetapi di sekolah susah tidak mau belajar. Bagaimana caranya agar dia di sekolah mau mengikuti pelajaran dari gurunya?

    Post a Reply
    • Fokus TK memang tidak belajar, tetapi bermain. Anda bisa konsultasikan masalah ini kepada gurunya, mungkin dia merasa anak anda sudah bisa dan membiarkan saja dia bermain. Teman yang diajak bermain juga sudah bisa, atau lebih jelasnya anda bisa berkonsultasi kepada guru tersebut.

  31. Pendidikan karakter anak harus terintegrasi dengan pendidikan budi pekerti dari keluarga di rumah, karakter harus dibentuk dari rumah dengan pemahaman orang tua yang lebih baik tentang pendidikan anak usia dini. Terima kasih.

    Post a Reply
  32. Saya ibu 1 anak berumur 5 tahun 6 bulan, selama ini saya cenderung agak keras mengasuh anak saya, seperti marah saat anak saya selalu berantakin semua mainannya, atau misalnya selalu ingin bermain diluar rumah. Lingkungan perumahan saya termasuk ramai anak-anak dari usia 0 bulan sampai 9 tahun. Saya kurang suka jika anak saya bermain tidak mengenal waktu karena setelah bermain ada saja prilaku baru yang ditiru anak saya.

    Dalam waktu dekat saya dan suami berencana pindah rumah, di lingkungan yang baru nantinya bisa dikatakan tidak ada anak-anak yang sebaya dengan anak saya. Bagaimana cara mengajarkan pada anak untuk menghadapi lingkungan baru tersebut untuk anak saya? Anak saya belajar di les calistung 1,5 jam dan sore di TPA utk mengaji 1,5 jam. Apakah diwaktu tersebut sudah dikatakan cukup untuk anak saya berinteraksi dengan teman sebayanya?

    Dilema lain bagi saya, usia berapa yang paling pas utk masuk SD? Saat ini anak saya sudah bisa menulis dan mengenal angka, tetapi untuk membaca masih belum.

    Terima kasih.

    Post a Reply
    • Fase anak anda adalah bermain, bukan ditekan dengan tugas-tugas seperti yang anda harapkan. Usia masuk SD adalah 6,5 – 7 tahun.

  33. Artikelnya menarik sekali buat saya karena saya orang tua baru.
    Mohon izinnya untuk saya copas di blog saya.

    Post a Reply
    • Silahkan, juga mohon dicantumkan link website kami sebagai sumbernya. Terima kasih

  34. Saya ibu usia 26 tahun dengan 1 anak usia 2,1 tahun dan sekarang sedang mengandung anak kedua usia 4 bulan, karena saya dan suami bekerja maka saat pagi anak kami titipkan ditempat mertua dan siangnya tinggal dengan orangtua saya. Masalahnya cara kami mengasuh berbeda dengan kedua orangtua saya maupun mertua sehingga saya takut anak saya akan bingung dengan metode 3 pengasuhan (dari kami, dan kakek nenek baik dari orang tua saya maupun mertua). Dengan akan lahir adiknya kami sekarang bingung mencari pengasuh karena kakek dan nenek sudah tidak bisa menjaga 2 anak. Saya berpikir apa bagus jika dimasukkan ke PAUD untuk si kakak, dan adik yang akan lahir dititipkan ke pengasuh? Saya masih bingung apakah dengan usia kakak yang 2,6 tahun pada saat ajaran baru nanti sudah cukup untuk dimasukkan diPAUD atau menunggu usia 3 tahun? Saya khawatir apakah anak saya akan bosan jika masuk sekolah sekarang.

    Post a Reply
    • Tunggu usianya 3 tahun saja. Jika ada tempat penitipan anak akan jauh lebih baik, jika diasuh oleh pemerhati anak dan anda bisa mendapat pengetahuan lebih di tempat penitipan anak. Carilah TPA yang bisa diajak bekerja sama untuk mendidik anak anda.

  35. Dear, Pak Timothy.
    Terima kasih telah berbagi ilmu pengasuhan kepada kami para orangtua. Alhamdulillah saya telah membeli buku Pak Timothy, yang berjudul 7 Hari Membentuk Karakter Anak. Alhamdulillah anak saya mengalami perubahan. Dulu sering berkata kasar, kotor dan kata-kata tidak pantas lainnya. Anak saya juga suka memukul dan pemarah. Setelah saya mempraktekkan dan berlatih, anak saya lebih sopan kata-katanya, tidak mudah marah lagi.

    Sekarang anak saya duduk di kelas 1 SD. Ketika segala sesuatunya berjalan baik, setelah saya berlatih buku Pak Timothy, tiba-tiba anak saya berperlaku lagi seperti dulu. Berkata kasar dan suka memukul. Padahal saya di rumah sudah berusaha sebaik mungkin mengikuti apa yang ada di buku itu. Setelah saya amati, di kelasnya ada temannya yang sering bicara kasar dan suka usil. Awalnya anak saya mengabaikannya, entah bagaimana, lama-kelamaan dia berulah, seperti memukul dan berkata kasar lagi. Anak saya juga memiliki hasrat yang sangat tinggi terhadap sesuatu yang menjadi kesukaannya dan jika diingatkan untuk berhenti, maka dia akan marah dan mengamuk. Misalnya di sekolah ada pelajaran merakit robot, selama pelajaran itu, dia duduk tertib dan sangat menikmati. Lalu ketika waktunya habis, dan berganti ke pelajaran lain, dia tidak mau, jika diingatkan, dia marah dan mengamuk. Kemarin di sekolahnya dia membanting kursi, karena dia tidak mau berganti pelajaran dan hanya mau merakit robot saja.

    Pertanyaan saya:
    1. Bagaimana agar anak saya bisa menahan hasratnya terhadap sesuatu yang sangat disukai, agar dia lebih mengikuti aturan dimana pun dia berada. Terutama di sekolah?

    2. Bagaimana agar anak saya tidak mudah terpengaruh (ikut-ikutan) oleh teman-temannya yang berperilaku tidak baik tadi? Apakah perlu hypnosleep lagi? Kira-kira redaksinya bagaimana ya Pak?

    3. Beberapa hari yang lalu, gurunya baru saja pindah ke tempat lain. Apakah ini karena gurunya yang pindah? Memang gurunya tidak sempat berpamitan dan di sekolah yang gurunya pindah ini, cukup tegas dan konsisten dalam menerapkan aturan, dibanding guru-guru yang lain.

    Terima kasih atas jawabannya.

    Post a Reply
    • 1. Dilatih, misalnya ini coklat buat kamu, kalau kamu tidak makan dalam waktu 10 menit maka mama kasi 1 coklat lagi. Hal ini akan membantu dia untuk latihan “mengerem”. Hypnosleep juga bisa dilakukan, dengan memberi sugesti “kamu mampu hidup teratur dan fleksible”.

      2. Boleh, tetapi lebih baik anda minta bantuan gurunya untuk lebih menertibkan, karena pengaruh lingkungan jauh lebih kuat.

      3. Bisa jadi karena hal itu.

  36. Bagus artikelnya, izin copy ya.

    Post a Reply
    • Silahkan, juga mohon dicantumkan link website kami sebagai sumbernya. Terima kasih.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>