Kenali 8 Jenis Kecerdasan Anak Yang Sering Diabaikan Orangtua

Malah Nikola Tesla lebih hebat lagi. Ia merancang, membuat, dan menjalankan generator induksi hanya dengan menggunakan pikirannya. Ia juga dapat memeriksa komponen yang aus dan rusak dari mesin yang ia jalankan di dalam pikirannya.

Hebatnya lagi, semua hasil penelitian yang ia lakukan ternyata sama persis dengan hasil penelitian yang menggunakan mesin yang sesungguhnya. Kemampuan untuk merencanakan sesuatu di masa yang akan datang, misalnya merencanakan masa depan, juga termasuk kecerdasan visual-spasial.

6. Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan Kinestetik

Seorang anak dengan kecerdasan kinestetik yang berkembang baik suka memegang, menyentuh, atau bermain dengan apa yang sedang dipelajari. Mereka mempunyai koordinasi fisik dan ketepatan waktu yang baik.

Anak dengan kecerdasan ini sangat suka belajar dengan terlibat secara langsung. Ingatannya kuat terhadap apa yang dialami daripada apa yang dikatakan atau dilihat. Mereka menyukai pengalaman belajar yang nyata seperti field-trip, membangun model, role play, permainan, atau olahraga.

Selain itu mereka mampu menunjukkan kekuatan dalam kegiatan yang membutuhkan gerakan otot kecil maupun otot utama, dan mempunyai kemampuan untuk menyempurnakan gerakan fisik dengan menggunakan penyatuan pikiran dan tubuh.

Mereka juga mampu menciptakan pendekatan baru dengan menggunakan keahlian fisik seperti dalam menari, olahraga, atau aktifitas fisik lainnya. Serta menunjukkan keseimbangan, keindahan, ketahanan, dan ketepatan dalam melakukan tugas yang mengandalkan fisik.

Anak dengan kecerdasan kinestetik biasanya menunjukkan minat pada karier sebagai atlet, penari, dokter bedah, atau sebagai tukang. Mereka mngerti dan hidup sesuai standar kesehatan.

Kecerdasan kinestetik dan proses belajar yang didasarkan pada kecerdasan ini seringkali diabaikan atau bahkan tidak dihargai di sistem pendidikan kita. Sistem sekolah kita beranggapan bahwa kecerdasan linguistik dan logika-matematika jauh lebih berharga.

Paradigma ini bahkan telah tertanam di dalam benak para pendidik, orangtua, maupun murid sendiri. Howard Gardner sendiri mengakui bahwa saat ini telah terjadi ketidakseimbangan dalam metode pendidikan.

Ketidakseimbangan ini terjadi karena sekolah memisahkan antara unsur pikiran dan tubuh dalam proses belajar. Padahal, menurut tradisi Yunani, pendidikan harus melibatkan pikiran, emosi, dan tubuh fisik agar tercapai hasil pendidikan yang efisien dan maksimal.

You have Successfully Subscribed!