6 Cara Mendisiplinkan Anak

Tentunya setiap kali kita melakukan proses kedisiplinan ini tetap mematuhi aturan komunikasi yang baik, komunikasi yang bisa membangun harga diri seorang anak. Komunikasi itu harus melibatkan unsur mengakui perasaan, memahami perasaan dan kemudian mulai mengarahkannya.

4. Memberikan Pengalaman Kita Kepada Anak

Memberikan Pengalaman Kita Kepada Anak

Seseorang belajar dengan pengalaman, ada seorang anak yang ketika diberitahu bahwa kalau nilai ulangannya jelek itu sangat tidak enak. Mungkin beberapa anak bisa diberi tahu, bisa diminta mau belajar untuk ulangannya.

Tetapi mungkin beberapa anak harus diberikan beberapa pengalaman, begitu ulangannya jelek mereka merasa sedih. Mungkin beberapa anak lebih parah lagi, mereka harus mengalami suatu proses dimana mereka tidak naik kelas dan kemudian setelah itu baru terpacu untuk belajar.

Itulah cara seseorang belajar, belajar dari pengalaman. Jika memang itu harus terjadi ya terjadilah, tetapi maknai itu dengan positif. Usahakan bahwa kita bisa melakukan dengan nomor satu, yaitu meminta dengan penjelasan atau memberikan perintah kepada anak dengan komunikasi yang baik.

5. Memberikan Sebuah Hadiah

Memberikan Sebuah Hadiah

Ya, tahapan yang berikutnya adalah dengan memberikan satu hadiah kepada mereka, tentunya kita harus menyesuaikannya. Yang kita harus beri hadiah adalah usahanya, bukan prestasinya.

Jadi bukan nilai sepuluh yang mereka dapat di ulangan yang diberi hadiah, tetapi usahanya dalam belajar untuk mengalahkan keinginannya untuk menonton televisi. Nah itulah yang kita berikan sesuatu hadiah, artinya perilakunya yang kita perkuat disitu.

Yah, rasa bangga dirinya bahwa mereka bisa menaklukkan dirinya sendiri dari keinginan menonton televisi untuk belajar. Inilah yang kita perlu beri penghargaan, bukan nilai-nilainya.

6. Memberikan Hukuman

Memberikan Hukuman

Pastikan hukuman itu mendidik anak, pastikan hukuman itu bisa membuat anak merenung, pastikan hukuman itu bisa membuat anak mengintrospeksi dirinya, jadi bukan sekedar memuaskan emosi diri kita sendiri.

Hukuman itu harus konstruktif (membangun) bagi anak kita, misalkan mereka diminta menulis satu kalimat yang positif “Saya akan semakin rajin” bukan menulis “Saya berjanji tidak akan malas.” Ingat prinsip komunikasi, katakan apa yang kita inginkan untuk terjadi, itulah salah satu contoh hukuman-hukuman yang konstruktif.

You have Successfully Subscribed!