6 Cara Mendisiplinkan Anak

Sekarang mari kita lihat lebih jauh tentang disiplin. Kalau kita bagi, disiplin itu ada dua jenis, yaitu sebuah disiplin yang bisa membangun harga diri anak dan sebuah disiplin yang digunakan dengan cara merusak harga diri anak, atau menggunakan rasa bersalah untuk membuat seorang anak menjadi lebih baik lagi.

Nah, misal kita contohkan disiplin yang menggunakan rasa bersalah pada seorang anak adalah “Tuh kan salah, kamu tidak boleh seperti itu, coba lihat tuh akibatnya, kan orang lain bisa terluka, kamu itu harusnya lebih sopan” harus lebih begini begitu dan sebagainya. Dan seorang anak akan menjawab “Ya, saya salah” apakah itu bagus?

Dalam kadar sedikit itu bagus, tetapi jika terlalu banyak maka akibatnya akan sangat buruk sekali. Karena harga diri seorang anak akan rusak dan mereka akan merasa bahwa dirinya memang orang tidak berguna.

Dampaknya anak akan merasa selalu disalahkan, sehingga akhirnya mereka akan berpikir lebih baik tidak usah melakukan apapun dan tumbuh menjadi seseorang yang tidak punya inisiatif dalam hidupnya. Kita tentu tidak mau anak kita menjadi seperti itu bukan? Karena itu hindari disiplin dengan menggunakan perasaan bersalah.

Mengapa Orangtua Menerapkan Disiplin Negatif?

Mengapa Orangtua Menerapkan Disiplin Negatif?

Kebanyakan dari apa yang terjadi pada orangtua di Indonesia, mereka mengatakan bahwa sebenarnya mereka itu kesal dengan dirinya sendiri, mereka capek harus mengurus ekonomi keluarga, harus bekerja, harus mengurus bisnis, harus ini itu dan sebagainya.

Termasuk juga harus mengurus pasangan, mengurus orangtuanya dan kemudian sekarang tiba-tiba dihadapkan seorang anak yang merengek minta ini dan itu. Kita begitu capek dengan diri sendiri dan terpicu, kemudian kita punya ekspektasi seharusnya kamu tidak boleh begitu, kamu sudah besar.

Kita meledak dan kita marah, pada akhirnya kita menghukum mereka. Yah itulah salah satu penyebab disiplin negatif, sebetulnya kita capek, kita kesal dengan diri kita sendiri. Mungkin anda pernah merasakannya?

Berikutnya adalah melihat contoh, bahwa kita dulu dibesarkan dengan cara seperti itu dan sekarang akhirnya kita sukses. Karena itu kita berpikir bahwa itulah cara mendidik anak yang benar dan kemudian kita mencontoh cara-cara itu dan kita melakukannya tanpa berpikir panjang lagi.

You have Successfully Subscribed!