Inilah 2 Penyebab Utama Rendahnya Rasa Percaya Diri Pada Anak

Ada 2 isu penting yang menjadi penyebab mengapa anak mengalami gangguan percaya diri:

1. Pola Asuh Yang Salah

Pola asuh yang salah dapat menyebabkan perkembangan kemandirian sosial anak terhambat, misalnya orang tua dengan pengasuhan otoriter. Cara mendidik yang salah, berdasar pada ancaman, kekerasan dan pemukulan setiap kali anak berbuat kesalahan. Misalnya ketika anak bermain sesuatu sering disalahkan, dipukul, diancam, dicela dan direndahkan atau pengasuhan yang over protektif.

Kepercayaan diri anak sangat berhubungan dengan perlakuan orang tua kepada anak ketika pada masa-masa sebelum anak bersekolah. Dengan kata lain apa yang kita berikan kepada anak-anak pada usia dibawah misalnya 5 atau 6 tahun akan sangat mempengaruhi kepercayaan dirinya sewaktu dia nanti memasuki sekolah.

Perlakuan orang tua yang penuh kehangatan itu adalah suatu modal yang akan memberi anak kekuatan untuk melangkah keluar dari lingkup rumahnya dan memasuki tempat yang asing baginya.

Semakin seorang anak kuat berakar karena tahu dirinya dicintai dan diterima apa adanya di rumahnya sendiri, mereka seolah-olah akan mendapatkan lebih banyak energi untuk melangkah keluar menghadapi tantangan dan tuntutan dari luar.

Kebalikannya, ketika anak yang mengalami banyak ketegangan dan perlakuan orang tua yang bersifat kritis, memarahinya atau hidup dimana orang tua mempunyai hubungan pernikahan yang tidak baik, maka anak justru tidak mempunyai kekuatan. Mereka justru akan merasa lemah dan akhirnya waktu harus melangkah keluar, bukannya makin berani tetapi justru merasa takut.

2. Trauma

Hal yang menjadi penyebab trauma bisa berasal dari pengalaman atau hal-hal yang tidak menyenangkan di masa lalu, misalnya saat anak mengerjakan soal dan kemudian jawabannya salah, respon orang tuanya adalah marah dan membentaknya.

Atau saat salah mengerjakan soal di sekolah anak disuruh berdiri dipojok kelas sehingga malu, hal ini dapat menyebabkan anak takut untuk menjawab pertanyaan karena trauma.

Hal-hal seperti ini bisa saja terjadi bukan hanya dalam kegiatan belajar tetapi juga dalam lingkungan sosialnya, seperti diejek dan ditertawakan teman, perlakuan kasar dari teman dan lain-lain.

You have Successfully Subscribed!