Inilah 2 Penyebab Utama Rendahnya Rasa Percaya Diri Pada Anak

Akibat dimanjakan, daya tahan stres mereka pun tidak terbangun dengan baik. Tantangan dan kesulitan menjadi barang mewah bagi anak yang dimanjakan ini. Hingga masa remaja mereka tidak cakap membedakan mana itu keinginan (wants) dan kebutuhan (needs).

Di beberapa pusat rehabilitasi dan depresi, disana banyak ditemukan remaja yang besar dengan cara dimanjakan. Mereka tidak cakap mengelola konflik saat berada di bangku SMP dan SMU, sehingga mereka mulai menghadapi berbagai kesulitan yang tidak jumpai ketika berada di rumah.

Disiplin muncul bersama kendali diri, itu artinya seseorang harus mengendalikan semua kualitas negatif dalam dirinya. Hal yang menyiksa hidup anak kita sesungguhnya bukanlah kesusahan tetapi justru kesenangan berlebih.

Anak yang terbiasa dengan kesenangan, sering merasa tidak pernah puas dengan kesenangan. Sedangkan anak yang terbiasa hidup dengan disiplin dan kesulitan justru lebih tahan banting terhadap kesusahan. Karena secara tidak langsung mereka belajar percaya bahwa diri mereka sendiri yang mampu menciptakan keberhasilan mereka.

Nah dari beberapa penjabaran ini semoga kita diberi hikmat, kasih dan kebijaksanaan dalam mengasuh anak-anak. Terhindar dari perilaku yang bisa menjadi “penyiksa” anak-anak dengan memanjakan mereka secara berlebihan dan bukannya memupuk sesuatu yang lebih permanen bagi kesuksesan mereka kelak.

Penyebab rasa percaya diri rendah sangatlah beraneka ragam. Bisa jadi berasal dari masa kanak-kanak yang kurang menyenangkan atau dari pengalaman pahit yang diperoleh dalam pergaulan.

Dapat juga berasal dari sikap orang tua yang kurang bijaksana dalam mendidik atau mungkin juga karena keadaan tubuh atau fisiknya, misalnya terlalu pendek, terlalu gemuk dan sebagainya.

Berikut ciri anak yang memiliki rasa percaya diri rendah:

  • Anak takut berinteraksi dengan lingkungan sosial
  • Anak enggan untuk berangkat ke sekolah dan tempat-tempat keramaian
  • Anak tidak mau berkenalan dengan teman sebaya atau orang lain, cenderung menghindari kontak mata dengan orang lain, menarik diri, cemas ketika berhadapan dengan orang lain
  • Anak selalu menempel pada orang tua atau pengasuhnya, tidak mau ditinggal di sekolah
  • Rendahnya kepercayaan diri anak, memiliki konsep negatif takut tidak diterima di lingkungan

You have Successfully Subscribed!